Perbedaan Teknologi Cloud dan Internet of Things

Teknologi Cloud dan Internet of Things (IoT) adalah dua hal yang berbeda namun saling melengkapi. IoT mengacu pada jaringan dari berbagai objek-objek yang saling terhubung, beralamat unik, dan berbasis protokol komunikasi standar. Objek-objek ini keberadaannya bisa di mana saja, serta dapat mengukur, memahami, atau bahkan memodifikasi lingkungan. Sementara itu, komputasi Cloud adalah suatu model yang mengizinkan pengguna untuk mendapatkan akses ke berbagai sumber daya komputasi/komunikasi/penyimpanan (misal: jaringan, server, penyimpanan, aplikasi, dan layanan) dari mana saja secara mudah.

Berikut ini akan dibahas perbedaan teknologi Cloud dan IoT, dilihat dari beberapa aspek dan peluang keduanya untuk saling melengkapi.

Perbedaan Cloud & Internet of Things

1. Lokasi

IoT. Komponen IoT tersebar di berbagai tempat, atau bahkan tertanam di berbagai barang keseharian kita, seperti: pakaian, furnitur, benda elektronik, karya seni, dan sebagainya. Salah satu contoh penerapan IoT adalah Wireless Sensor Networks (WSN), di mana setiap sensor mendapatkan informasi kondisi sesuai tugasnya (misal: sensor gerak, temperatur, air, dsb.). Sensor nodes ini bisa diletakkan di mana saja sesuai dengan tujuan penggunaannya.

Cloud. Lokasi Cloud tersentral, sehingga pengguna cukup mengakses sumber daya melalui satu pintu saja. Meskipun pada kenyataannya lokasi fisik sumber daya bisa berbeda-beda (misal: lokasi penyimpanan data fisiknya ada di Indonesia, Singapura, dan China), tetapi pengguna hanya tahu bahwa untuk mendapatkan layanan Cloud tersebut cukup lewat satu jalur saja.

2. Jangkauan

IoT. Jangkauan IoT terbatas, sesuai lingkup lingkungannya saja. Misal IoT yang berhubungan dengan Smart House, maka jangkauannya hanya dalam satu rumah itu saja atau informasi bisa diakses dari luar hanya oleh si pemilik rumahnya.

Cloud. Sumber daya cloud bisa diakses dari mana saja selama kita terhubung dengan jaringan Internet. Misal kita punya private Cloud di Jogja, kita bisa manfaatkan Cloud tersebut dari luar kota. Contoh lain: kita bisa mengerjakan tugas di mana saja dengan memanfaatkan Google Docs yang dokumennya tersimpan di Cloud.

3. Komponen

IoT. Komponen IoT bersifat nyata. Contoh: sensor kebakaran, CCTV, TV cerdas, kulkas cerdas, dsb. Kita bisa melihat fisik benda-benda tersebut.

Cloud. Sumber daya Cloud bersifat virtual. Contoh: kita mendapatkan layanan infrastruktur cloud (Infrastructure as a Service – IaaS) dengan 1 core processor 2 GHz & RAM 2 GB, resource ini kita dapatkan secara virtual. Pada kenyataannya, fisik sumber daya yang ada bisa memiliki banyak core dan RAM yang besar, hanya saja kita harus berbagi dengan pengguna Cloud lainnya sehingga kita mendapatkan jatah sumber daya virtual yang nilainya lebih kecil daripada ukuran aslinya.

4. Kemampuan komputasi

IoT. Komputasi dalam IoT biasanya hanya sederhana, tergantung fungsi dari komponen tersebut. Salah satu penyebab terbatasnya kemampuan komputasi ini adalah karena penyimpanan energinya yang juga terbatas. Jikalau ada sesuatu yang membutuhkan komputasi yang cukup kompleks, datanya bisa dikirimkan ke server/cloud untuk diproses lebih lanjut.

Cloud. Kemampuan komputasi Cloud hampir tak terbatas, sesuai dengan sifat sumber dayanya yang bersifat virtual.

5. Penyimpanan

IoT. Komponen IoT biasanya berukuran tidak terlalu besar dan tersebar di berbagai tempat. Contohnya adalah sensor node yang berukuran kecil dan bisa ditempatkan di mana saja. Trade-off dari sifat IoT ini adalah ukuran penyimpanannya menjadi terbatas.

Cloud. Masih berhubungan dengan sifat sumber dayanya yang virtual, penyimpanan Cloud hampir tak terbatas.

6. Peran Internet

IoT. Internet diposisikan oleh IoT sebagai titik konvergensi. Artinya, data dari berbagai komponen IoT yang tersebar di berbagai tempat dikumpulkan/disatukan melalui internet.

Cloud. Internet dimanfaatkan oleh Cloud sebagai media untuk memberikan layanan kepada penggunanya. Kita jika ingin memanfaatkan layanan Cloud, biasanya harus terhubung dengan Internet.

7. Big Data

IoT. IoT menjadi sumber data bagi Big Data. End-devices pada IoT banyak men-generate data & informasi yang jika dikumpulkan akan bermanfaat bagi pengelolaan Big Data.

Cloud. Dengan kapasitas penyimpanan dan kemampuan komputasi yang virtually unlimited, Cloud dapat dimanfaatkan untuk mengelola Big Data.

Cloud & IoT Saling Melengkapi

Cloud dapat dimanfaatkan untuk memberikan layanan kepada IoT, baik itu layanan komputasi, komunikasi, maupun penyimpanan. Teknologi Cloud juga bisa mendapatkan sesuatu dari IoT, yaitu layanan Cloud dapat dimanfaatkan di mana-mana, dengan berbagai kondisi lingkungan, dengan skenario nyata yang sangat beragam, bahkan data bisa di-generate secara otomatis dengan komponen IoT. Jadi, hubungan IoT dan Cloud dapat berupa simbiosis mutualisme.


Referensi

  1. Botta, Alessio, dkk. 2016. Integration of Cloud computing and Internet of Things: A survey. Future Generation Computer System, Volume 56, page 684-700.

No Comment

No comments yet

Leave a reply

*